Cerita tentang ujian sabar

Dulu, aku pernah ikut lomba blog bertema kuliner, dan hasilnya nggak memuaskan. Penjuriannya aneh dan blog yg menang pun aneh. Tapi gimana2 juga yg namanya keputusan dewan juri pd kontes tsb adalah mutlak, tidak dapat diganggu gugat.

Nah beberapa waktu lalu, kontes serupa dibikin lagi. Aku memutuskan ikut, untuk menang. Ya walopun kompetitornya sangar2, aku wes berniat menang untuk pembuktian. Let’s go!

Ikhtiar nulisnya sudah dilakoni. Ketika menulis pun aku juga sambil memvisualisasikan kemenangannya. Tapi materialku kalo dibanding dg kompetitor ya jelas sekali gepuk langsung ambruk. Beberapa teman blogger juga minder mau ikut kontes. Mereka bilang, “wah kalo musuhnya si anu anu dan anu itu ya jelas kalah…”

Memang kontes itu tanpa kelas, free for all. Masuk disana berarti tarung langsung dg para wartawan kuliner yg sudah terbiasa nulis secara profesional, dan ada juga sejumlah blog niche dg topik kuliner yg punya rank tinggi & traffic berdebit besar di internet.

Oleh karena itu, untuk menang aku perlu senjata lain: doa.

Ketika bangun malam untuk tahajud aku menyempatkan diri berdoa, mohon supaya dimenangkan di lomba itu. Bahkan doaku malah agak nakal, menantang tuhan untuk membuktikan janjinya, minta menunjukkan bahwa tuhan itu memang betulan tuhan, yg mendengar dan mengabulkan doa hambanya. Minta menunjukkan kekuasaannya bahwa tuhan itu memang mampu bikin yg mustahil itu jadi nyata. Mampu bikin blog gado2ku menang diadu dg blog niche, haha.

Ternyata doaku (yg nggak sopan itu) didengar tuhan.

Tapi nggak langsung dikabulkan segampang itu, ada ujian lain lagi, sabar. Ketika tiba waktunya pengumuman pemenang lomba, panitia diem diem aja. Setelah ditanyakan via japri, baru ada informasi kalo pengumuman hasil lomba ditunda. Jatuh tempo waktu pengumuman baru pun, panitia molor lagi. Yah, dg segala excuse-nya. Ketika dikirimi email teguran pun responnya defensif. Yo wes lah, memang mereka tuhannya lomba itu. Sak karep karepmu lah…

Sempat ilfil sama panitia lomba. Mereka nggak kerja secara profesional. Hampir memutuskan untuk memblow up urusan itu ke publik, karena tentu saja class action akan lebih diperhatikan daripada email japri yg nggak kredibel. Tapi aku memutuskan melupakan saja lomba itu daripada ribut2 dan sakit ati. Di titik ini aku sbg manusia yg makhluk lemah ketauan luputnya. Doa itu harus istiqomah, nggak bisa sekali minta langsung dikabulkan. Aku kurang sabar.

Dan ternyata bener, bahwa tuhan itu maha penyayang. Walopun hambanya ini masih belum sempurna doanya, kemenangan itu diturunkan. Bukan juara satu sih, tapi menang, haha. Alhamdulillah. Bahkan bisa mengalahkan jagoan lomba tahun sebelumnya, yg cuman dapet peringkat juara harapan. Kenapa susunan juara bisa seperti itu? Aku mengamati ada kesengajaan, ada tanda yg jelas sekali disana ada campur tangan tuhan, ada tanda bahwa tuhan mendenger doa hambanya.

Kesimpulan: Momen berdoa yg sangat sip itu ketika tahajud. Tapi doa dikabulkan ya sesuai dg usaha doanya.

Dan ternyata, yg bikin merinding adalah bahwa pengalaman ini persis seperti yg tertulis di surat albaqarah ayat 45:

Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’.

Jadi aku masih belum tergolong orang-orang yg khusyu’?

Obrolan di bus antar kota

Waktu itu dalam perjalanan antara mekkah dan madinah, duduk sebelahan sama bapak2 dari suburb kediri, ndeso wes pokok’e. Belio cerita tentang pengalamannya ketemu jodoh…

Jaman masih mudanya, dia nggak punya banyak harta yg patut disombongkan, dari keluarga biasa saja yg bukan ningrat dan sebagainya. Secara akademik juga statusnya masih mahasiswa, belum lulus. Belum punya pekerjaan tetap dg steady income bulanan yg bisa jadi pegangan. Sesekali dia nulis dan dapet honor dari tulisannya. Cuman gitu aja.

Eh tapi ternyata ada pasangan bapak/ibu yg tertarik merekrut dia untuk dijadikan mantu, dikawinkan sama anak perempuannya. Kok bisa? Apanya yg menarik dari pemuda macem gitu? Gimana kok bisa mempercayakan anak perempuannya sama pemuda yg nggak jelas macem gitu?

Karena normalnya, orang tua akan cari pemuda yg mapan buat dijadikan mantu. Paling enggak ada pekerjaan tetap dg penghasilan pasti tiap bulannya, sehingga anaknya nggak akan hidup susah dan kelaparan. Secara akademik juga harus lebih tinggi atau minimal selevel dg anaknya.

Pasangan bapak/ibu itu tadi mampu melihat potensi pemuda itu, lebih dari apa yg nampak pd dari tampilan luarnya. Sehingga direkrut jadi mantu, dikawinkan sama anak perempuannya.

Pasangan bapak/ibu tadi melihat bahwa si pemuda yg soleh itu bagus agamanya, dan bisa jadi imam yg baik buat anak perempuannya. Demikian saja. Urusan dunia, nggak perlu dikuatirkan, karena rejeki manusia itu sudah jaminan gusti allah katanya. Yg penting pemuda itu bisa mbimbing anak perempuannya ke jalan menuju surga.

Masa masa susah dilewati, nggak cuman lulus kuliahnya, lebih dari itu si pemuda soleh kemudian melewati pendidikan sampek level tertinggi. Nggak cuman berhasil meraih gelar doktor di bidang medis, tapi juga dipromosikan jadi profesor untuk kepakarannya soal tahajud. Dan tentu saja jadi suami yg baik buat istrinya, dan jadi panutan anak anaknya yg banyak.

Aku catet cerita ini disini, soalnya menarik, biar nggak lupa. Ini semacam cerita perkecualian, eksepsional, nggak ngikut pakem gimana orang tua nyari mantu yg wajar buat dipasangkan dg anaknya. Lha gimana itu pasangan bapak/ibu bisa ngeliat potensi dari dari pemuda yg nggak banget. Banyak lelaki yg lebih keren lebih kaya dan mapan.

(string)

iseng ngamati perilaku teman2 dg keyboardnya. aku mendapati banyak sample bahwa teman2ku yg tidak berprofesi sbg programmer ketika nulis (string), sequence keystroke-nya gini:

(
s
t
r
i
n
g
)

eh tapi kalo programmer, biasanya gini:

(
)
panah kiri
s
t
r
i
n
g

kalo kamu gimana? biasanya ngetik kurungnya dulu kah? ato maju terus secara linear?

ingatlah diriku

sejujurnya diriku tak ingin kehilanganmu
aku sangat sayang padamu
namun entah mengapa perpisahan ini mencambukku
semoga kita bersama lagi

ingatkah diriku yang pernah
ada disampingmu
ada diwaktumu
ada dihatimu

kuingat dirimu yang pernah
hadir disampingku
temani waktuku
temani hatiku

music

asas praduga tak bersalah

selalu inosen sebelum pengadilan memutuskan sebaliknya.

kadang aku bingung dg aturan hukum macem gini. tersangka itu nggak bersalah, selama hakim belum ngetok vonisnya, nggak bersalah. tapi herannya selama proses penyidikan/pengadilan, sudah dijebloskan ke penjara duluan. lha dipenjaranya untuk kesalahan apa? lha wong kesalahannya belum terbukti eee.