Entries Tagged 'Umroh' ↓

sedikit cerita tentang surat al israa’ ayat 80

jadi ceritanya waktu itu di bis antar kota, kebetulan aku duduk sebelahan sama orang alim. daripada sekian jam perjalanan cuman bengong/tidur, pd kesempatan itu aku coba copy sejumlah pengetahuan beliau. semoga ilmu beliau bermanfaat, semoga rahmat dan barokahnya selalu tercurah pd beliau.

salah satu obrolan yg menarik waktu itu adalah bahasan panjang lebar tentang ayat 80 dari surat al israa’:

al-israa_80.png

artinya apa? kalo mbaca terjemahannya yg produksi departemen agama republik indonesia, artinya seperti gini:

dan katakanlah: “ya tuhanku, masukkanlah aku secara masuk yg benar dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar yg benar dan berikanlah kepadaku dari sisi engkau kekuasaan yg menolong.”

lha, maksudnya apa? agak2 absurd kalo sekedar mbaca terjemahan seperti itu. maksudnya adalah: memohon kepada allah supaya kita memasuki suatu ibadah dan selesai daripadanya dengan niat yang baik dan penuh keikhlasan serta bersih dari riya dan dari sesuatu yang merusakkan pahala.

(catetan: ayat ini juga jadi salah satu potongan doa yg dibacakan orang islam yg menyempurnakan ibadah haji/umroh - ketika melintasi maqam ibrahim)

dan ada juga yang menafsirkan: memohon kepada allah supaya kita memasuki kubur dengan baik dan keluar daripadanya waktu hari2 berbangkit dengan baik pula.

surat al israa’ termasuk surat makiyah, tapi momen turunnya ayat ini pas ketika nabi sedang diancam mau dibunuh orang2 kafir quraish. jadi secara sejarah, ayat ini juga mengisyaratkan kepada nabi supaya berhijrah dari mekkah ke madinah.

tapi buat aku yg menarik adalah bagian akhir dari ayat ini, “berikanlah kepadaku dari sisi engkau kekuasaan yg menolong”.

pd potongan doa ini, nabi muhammad memberi contoh bahwa untuk mencapai apapun obyektif kita, perlu ada usaha dan juga doa yg dilakoni secara simultan. usaha dan doa.

misalnya mbuka rumah makan, selain usaha secara fisik, perlu doa juga supaya rumah makannya banyak mendatangkan rejeki, dan rejekinya itu rejeki yg barokah. tapi kalo full berdoa tok tanpa mikir strategi pemasaran yg jitu ya gimana rumah makannya bisa diharapkan laris?

jadi, salah satu pesan yg menarik dari surat al israa’ ayat 80 adalah: usaha dan doa. pada apapun yg sedang kamu kerjakan.

ngobrol tentang mati

masih banyak cerita/foto dari gurun sih, tapi apa nggak bosen? jadi sepertinya ini post terakhir tentang gurun.

di masjidil haram, setiap selesai sholat fardhu, mesti ada aja sholat jenazah. setiap saat selalu ada. lalu jadi inspirasi/kepinginan sejumlah orang untuk berada di tanah haram ketika dipanggil mati, dan disholati disana. rasanya jadi merinding… hiiyyy… kamu sudah siap mati?

no camera!

sebenernya sudah diwanti2 sejak di indonesia, jangan mbawa kamera masuk masjidil haram. bahkan henfon berkamera pun potensial dirampas askar arab yg njaga masjid.

di manual umroh produksi biro perjalanan juga ada warning soal ini.

kabah.jpg

e lha tapi kenyataannya disana nggak perlu separanoid itu lah. buktinya aku bisa leluasa berfoto2 di dalem lingkungan masjid. bahkan bisa berpose, foto2an gantian sama teman sejamaah dari indonesia.

tapi memang sejak sebelom berangkat wes nggak niat hunting foto, jadi disana nggak sepiro mood moto.

tips:
jadi yg perlu diperhatikan adalah etika moto disana. jangan bergaya turis, jangan sampek ngganggu orang beribadah. ngambil gambar secukupnya aja. ojok sampek nggowo DSLR + tripod, dan segala kabel2nya… konyol itu :p

haji

haji! haji! murah hajiii… khomsa real… khomsa real…*

disini, ndorokakung suka pake ‘kisanak’ untuk panggilan pd pembaca blognya. disana, nggak usah heran kalo dipanggil2 ‘haji’, walopun cuman nglakoni umroh. memang panggilan (buat laki2) ya haji gitu, mungkin mirip pak ato mas disini.

hehe, tapi seneng ae dipanggil haji, tak anggep doa, moga2 keturutan bisa haji betulan. aamiin :)

*) khomsa = lima.

andonesi? andonesi?

post yg ini ga pake foto dulu.

ada kejadian unik di gurun. orang2 lokal keliatan happy dapet tamu dari indonesia, mereka bersikap sangat friendly. nggak ge er, karena aku juga iseng ngamati perlakuan thd ras lain, bahkan thd sesama timur tengah.

dan para pendatang pun keliatan seperti ketemu sodara kalo ketemu orang indonesia. di mekkah aku ketemu orang bangladesh yg fasih bahasa indonesia, di madinah aku ketemu sama orang iraq yg ‘kayak sodara sendiri’.

mungkin kita ini tergolong yg terbanyak mbawa arus pilgrim (dan uang) kesana ya?

keuntungannya, feels like home. kalo ga bisa bahasa arab, ngomong aja pake bahasa indonesia. mungkin mereka lebih nyambung daripada kita ngomong pake bahasa inggris. ya paling enggak, bahasa indonesia bisa dipake nawar barang di pasar… sepuluh real… sepuluh real… halal! :)